AKHLAK BERPAKAIAN

A. Akhlak Berpakaian

1.  Pengertian Pakaian

Pakaian menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah barang apa yg dipakai (baju, celana dan sebagainya). Istilah pakaian kemudian dipersamakan dengan busana. Istilah busana berasal dari bahasa sanskerta yaitu bhusana yang mempunyai konotasi pakaian yang bagus atau indah yaitu pakaian yang serasi, harmonis, selaras, enak di pandang, nyaman melihatnya, cocok dengan pemakai serta sesuai dengan kesempatan. Pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh.

Al Qur’an paling tidak menggunakan tiga istilah  untuk  pakaian yaitu,  libas,  tsiyab,  dan  sarabil. Kata libas digunakan oleh Al Qur’an untuk  menunjukkan  pakaian lahir  maupun  batin, Libas  pada  mulanya  berarti  penutup yakni apa pun yang ditutup. Fungsi pakaian  sebagai  penutup  amat  jelas, diantaranya sebagai  penutup tubuh.

Kata  tsiyab digunakan untuk menunjukkan pakaian lahir.  Kata tsiyab berakar pada kata dalam bahasa Arab tsiyab yang terambil dari  akar kata  tsaub yang  berarti  kembali,  yakni kembalinya sesuatu pada keadaan semula, atau pada keadaan yang seharusnya  sesuai  dengan  ide pertamanya.

Kata lain yang menjelaskan  perihal pakaian  adalah  sarabil.  Kamus-kamus bahasa mengartikan kata ini sebagai pakaian, apa pun jenis bahannya.  Hanya  dua  ayat yang  menggunakan  kata  tersebut. Satu di antaranya diartikan sebagai  pakaian  yang  berfungsi  menangkal  sengatan  panas, dingin,  dan  bahaya  dalam  peperangan.

2. Fungsi Pakaian

a. Penutup Aurat

Kata ‘aurat, terambil  dari  kata  ‘ar  yang  berarti  onar,  aib, tercela. Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam  arti  sesuatu  yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkannya buruk. Tidak satu pun dari bagian  tubuh yang  buruk  karena  semuanya  baik  dan bermanfaat, termasuk aurat. Tetapi bila dilihat orang, maka  keterlihatan  itulah yang buruk.

Tentu saja banyak hal yang sifatnya buruk, masing-masing orang dapat menilai. Agama pun memberi  petunjuk  tentang  apa  yang dianggapnya   ‘aurat  atau  sauat.  Dalam  fungsinya  sebagai penutup, tentunya pakaian dapat menutupi  segala  yang  enggan diperlihatkan oleh pemakai, sekalipun seluruh badannya. Tetapi dalam konteks pembicaraan tuntunan  atau  hukum  agama,  aurat dipahami  sebagai  anggota  badan  tertentu  yang  tidak boleh dilihat kecuali oleh orang-orang tertentu.

“ Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al A’raaf : 26)

Terlihat jelas  bahwa  ide  dasar  yang  terdapat  dalam  diri manusia adalah tertutupnya aurat, namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka. Dengan  demikian,  aurat  yang  ditutup dengan  pakaian  akan dikembalikan pada ide dasarnya.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. Al A’raaf : 20)

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga…”(QS. Al A’raaf : 22)

Dan  ayat di atas juga tampak bahwa ide membuka aurat adalah ide setan, dan karenanya tanda-tanda kehadiran  setan  adalah  keterbukaan  aurat.  Sebuah  riwayat  yang  dikemukakan oleh Al Biqa’i  dalam  bukunya  Shubhat  Waraqah  menyatakan  bahwa ketika  Nabi. belum memperoleh keyakinan tentang apa yang dialaminya di  Gua  Hira  (apakah  dari  malaikat  atau  dari setan)  beliau  menyampaikan  hal  tersebut  kepada  istrinya Khadijah. Khadijah  berkata,  “Jika  engkau  melihatnya  lagi, beritahulah  aku”.  Ketika  di  saat  lain  Nabi. Melihat (malaikat) yang  dilihatnya  di  Gua  Hira,  Khadijah  membuka pakaiannya  sambi1  bertanya,  “Sekarang,  apakah engkau masih melihatnya?” Nabi menjawab,  “Tidak,  …  dia  pergi.”  Khadijah dengan penuh keyakinan berkata, “Yakinlah yang dating bukan setan, …  (karena  hanya  setan  yang  senang  melihat aurat)”.

Ide dasar aurat adalah “tertutup atau tidak dilihat walau oleh yang bersangkutan sendiri?” Beberapa hadis menerangkan hal tersebut secara rinci:

Hindarilah telanjang, karena ada (malaikat) yang selalu bersama kamu, yang tidak pernah berpisah denganmu kecuali ketika ke kamar belakang (wc) dan ketika seseorang berhubungan seks dengan istrinya. Maka malulah kepada mereka dan hormatilah mereka (HR. At-Tirmidzi). Hadis lain menyatakan : Apabila salah seorang dari kamu berhubungan seks dengan pasangannya, jangan sekali-kali keduannya telanjang bagaikan telanjangnya binatang (HR Ibnu Majah).

Yang dikemukakan di atas adalah tuntunan  moral. Sedangkan tuntunan  hukumnya  tentunya  lebih  longgar. Dari segi hukum, tidak terlarang bagi seseorang bila sendirian atau bersama istrinya untuk  tidak  berpakaian. Tetapi, ia berkewajiban menutup auratnya, baik aurat  besar  (kemaluan)  maupun  aurat kecil, selama diduga akan ada seseorang, selain pasangannya, yang mungkin melihat.

b. Perhiasan

Perhiasan  adalah  sesuatu  yang  dipakai  untuk   memperelok. Tentunya  pemakainya  sendiri  harus  lebih  dahulu menganggap bahwa perhiasan  tersebut  indah,  kendati  orang  lain  tidak menilai indah atau pada hakikatnya memang tidak indah.

Sebagian  pakar menjelaskan  bahwa  sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian. pakaian  yang  elok  adalah  yang memberi kebebasan kepada pemakainya untuk  bergerak.  kebebasan  mesti  disertai  tanggung jawab,  karenanya  keindahan harus menghasilkan kebebasan yang bertanggung jawab. Demikian kurang   lebih  yang  ditulis  Abbas  A1-Aqqad  dalam  bukunya Muthal’at fi Al Kutub Wa Al Hayat.

Salah  satu  unsur mutlak keindahan adalah kebersihan. Itulah sebabnya  mengapa  Nabi    senang  memakai  pakaian putih,  bukan  saja karena warna ini lebih sesuai dengan iklim Jazirah Arabia yang panas, melainkan juga karena  warna  putih segera  menampakkan  kotoran,  sehingga pemakainya akan segera terdorong untuk mengenakan pakaian lain (yang bersih).

Al Qur’an setelah memerintahkan  agar  memakai  pakaian-pakaian indah  ketika  berkunjung  ke  masjid,  mengecam  mereka  yang mengharamkan  perhiasan  yang  telah  diciptakan  Allah  untuk manusia.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raaf : 31-32)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s